Marsekal Muda TNI (Anumerta) Leo Wattimena, Legenda Penerbang Tempur TNI AU
0 menit baca
PENAJURNALIS.MY.ID, JAKARTA - Marsekal Muda TNI (Anumerta) Leonardus Willem Johanes Wattimena, atau yang lebih dikenal sebagai Leo Wattimena, merupakan salah satu penerbang tempur paling legendaris dalam sejarah Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI), kini TNI Angkatan Udara, pada era 1950–1960-an. Namanya tercatat sebagai simbol keberanian, profesionalisme, dan dedikasi tinggi dalam menjaga kedaulatan udara Indonesia.
Julukan “Penerbang Gila” yang melekat padanya bukanlah cerminan ketidakwajaran, melainkan pengakuan atas kemampuan terbangnya yang luar biasa. Leo dikenal gemar melakukan manuver ekstrem dengan presisi tinggi, menantang batas gravitasi dan risiko, sesuatu yang jarang mampu dilakukan oleh penerbang pada masanya.
Karier militernya dibangun melalui pendidikan penerbangan bergengsi di luar negeri. Leo terpilih mengikuti sekolah terbang di Amerika Serikat dan tercatat sebagai salah satu lulusan terbaik. Keahliannya semakin diakui ketika ia menjadi instruktur jet pertama di AURI, menguasai berbagai jenis pesawat tempur, mulai dari P-51 Mustang hingga jet MiG-21.
Saat menjalani pendidikan lanjutan di Inggris pada 1955 bersama Royal Air Force (RAF), keberaniannya dalam melakukan manuver udara membuat rekan-rekannya menjulukinya “Crazy Man”. Ia dikenal mampu menerbangkan pesawat tempur dengan kelincahan tinggi, seolah menyatu dengan mesin yang dikendalikannya dan menantang hukum fisika.
Dalam ranah operasional, Leo Wattimena memegang peran strategis dalam sejumlah operasi militer penting. Pada operasi penumpasan Permesta, ia memimpin misi penyerangan terhadap basis pemberontak dan menerapkan taktik udara yang efektif, memberikan kontribusi signifikan bagi keberhasilan AURI. Puncak karier militernya terjadi dalam Operasi Pembebasan Irian Barat, di mana ia berperan penting dalam berbagai misi strategis, termasuk operasi penerjunan dan dukungan udara.
Selain dikenal sebagai penerbang ulung, Leo juga dihormati sebagai pemimpin yang tangguh, tegas, dan berani mengambil risiko demi keberhasilan misi. Nama panggilan sehari-harinya, “Bladsem” 𝘆ang berarti kilat atau petir, mencerminkan kecepatan, ketajaman, dan daya serangnya di udara.
Marsekal Muda TNI (Anumerta) Leo Wattimena wafat pada 18 April 1976. Sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya, namanya diabadikan sebagai Pangkalan TNI AU Leo Wattimena di Morotai, Maluku Utara.
Kisah hidup Leo Wattimena menjadi teladan bagi generasi penerbang TNI AU dan bangsa Indonesia: sebuah simbol keberanian, keahlian tinggi, serta pengabdian tanpa batas dalam mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.





